Senin, 16 April 2012

Definisi Agama


Secara linguistik, dîn berarti ketaatan dan balasan. Penulis kitab Maqâyisul Lughah mengatakan bahwa asal dan akar kata ini berarti penghambaan dan kehinaan (tunduk). Sedang Râghib dalam Mufradâtnya mengatakan bahwa agama berarti ketaatan dan balasan.[1] Oleh karena itu, Syâri’at dinamakan dîn karena ia lazim ditaati.
Pemakain Kata Dîn Dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an, dîn dipakai dalam berbagai arti dan makna; terkadang bermakna pembalasan atau perhitungan, terkadang berarti undang-undang dan Syâri’at,[2] dan terkadang berarti ketaatan atau penghambaan.[3] Dalam arti yang terakhir, terkadang memiliki arti luas yang mencakup penyembahan berhala, seperti ayat yang menegaskan:[4] لكم دينكم
Terminologi Agama
Pengetahuan dan pemahaman arti linguistik agama yang dipakai dalam Al-Qur’an bukan tujuan utama penulisan buku ini. Yang menjadi maksud dan tujuan kita adalah arti terminologisnya.
Para pemikir Barat memiliki definisi beragam tentang agama. Di sini kami akan membawakan sebagaiannya:
# Agama adalah insting, aksi dan kondisi spiritual yang “menjangkiti” sekelompok orang tertentu dalam kesendirian mereka di hadapan Tuhan (William James adalag seorang filsuf sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika. Ia Hidup pada tahun 1842-1910).
# Agama adalah komparasi (majmu’eh) keyakinan, aksi, ritual, dan lembaga-lembaga keagamaan, seperti hauzah ilmiah, masjid dan lain sebagainya yang dibangun oleh manusia dalam masyarakat yang berbeda-beda. (Talcott Parsons, cendekiawan Sosial Amerika. Ia hidup pada tahun 1902-1979).
# Agama adalah pengakuan terhadap sebuah fakta bahwa segala eksistensi adalah manifestasi atau perwujudan dari sebuah wujud yang tak terjangkau dan tak terdeteksi oleh akal dan ilmu kita (Herbert Spencer, filsuf dan ahli sosial dari Inggeris. Ia hidup pada tahun 1820-1903).[5]
Kendati sekelompok pemikir dan cendekiawan berasumsi bahwa pendefinisian agama merupakan usaha yang sulit, hal ini bukan berarti membatasi dan melarang kita untuk menjelaskan terlebih dahulu maksud dari sebuah kata yang ingin kita bahas secara mendalam.
Maksud agama dalam kitab ini adalah seperangkat keyakinan dan tuntunan praktis yang diklaim berasal dari langit (Tuhan) melalui perantara para para nabi dan Rasul-Nya.
Dengan demikian, agama valid (haq) adalah agama yang benar-benar berasal dari Tuhan, yang menjanjikan kebahagiaan abadi bagi setiap manusia.
Sekelompok pemikir Islam berasumsi bahwa agama merupakan kumpulan apa yang diturunkan oleh Allah SWT kepada para nabi dan nasul melalui wahyu untuk merealisasikan kesempurnaan akhir manusia.
Definisi terakhir ini skupnya sangat sempit dan lebih spesifik dari definisi pertama, dan hanya mencakup agama valid dan otentik saja.
Alhâsil, perlu diketahui bahwa keyakinan terhadap sang Pencipta merupakan elemen terpenting sebuah agama. Dengan kata lain, setiap aliran yang tidak meyakini adanya Tuhan, tidak bisa dikatakan sebagai sebuah agama. Dalam hal ini, kita bisa ambil contoh Marxisme. Aliran ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah agama, karena mereka tidak mempercayai keberadaan Tuhan sama sekali.
Ringkasan
# Secara linguistik, agama (dîn) bemakna ketaatan dan balasan. Kata dîn ini digunakan dalam Al-Qur’an dengan arti balasan atau perhitungan, undang-undang atau Syâri’at, dan ketaatan atau penghambaan.
# Maksud dari agama adalah sekumpulan keyakinan dan tuntunan praktis yang diklaim berasal dari Tuhan yang diturunkan kepada para utusan-Nya.
# Keyakinan terhadap eksistensi Tuhan merupakan elemen (unsur) terpenting sebuah agama. Dengan artian, setiap aliran yang tidak menyakini-Nya tidak bisa dikatakan sebagai sebuah agama.
Dimensi Ajaran Agama
Ulama Islam mengklasifikasikan ajaran dan tuntunan agama dalam tiga katagori:
Akidah
Bagian ini mencakup ajaran–ajaran mengenai arti sebenarnya sebuah eksistensi (wujud), Pencipta, awal dan akhir penciptaan. Dengan demikian, bagian ini lebih umum dari sekedar syarat lazim ke-Islaman seseorang dan membahas setiap masalah yang berkaitan dengan ciri-ciri fenomena alam.
Dari sini dapat dipahami bahwa Akidah agama lebih umum dari Ushûluddîn yang merupakan syarat lazim bagi ke-Islaman seseorang, seperti keyakinan terhadap Tuhan, kenabian, dan hari pembalasan.
Nah, ilmu Kalâm sangat erat hubunganya dengan bagian ini. Oleh karena itu, ilmu Kalâm juga disebut dengan ilmu Akidah.
Akhlak
Bagian ini menerangkan tuntunan ajaran Islam tentang etika baik dan budi pekerti, seperti takwa, adil, jujur, dan amanah, serta tips-tips penyandangan-Nya. Syahid Murtadha Muthahhari mengatakan, ”Akhlak adalah tuntunan yang berkaitan dengan hal-hal yang layak disandang oleh manusia dilihat dari budi pekerti dan kaca mata spritual.”[6] Bagian ini terdapat dalam disiplin ilmu akhlak.
Ahkâm
Bagian ketiga dari tuntunan agama ini berhubungan dengan aksi dan perbuatan (perilaku). Dengan artian, bagian terakhir ini membahas hal-hal yang lazim dan tidak lazim dilakukan oleh manusia (wajib dan haram), tindakan yang lebih baik dilakukan atau lebih baik ditinggalkan (sunnah dan makruh), serta tindakan apa yang sama sekali tidak memiliki muatan kelaziman maupun prioritas (mubah). Bagian ahkâm ini termuat dalam ilmu Fiqih.
Perlu ditambahkan di sini, semua yang dijelaskan di atas tadi berdasarkan pendapat mayoritas ulama Islam. Kenapa kita katakan demikian? Karena para orientalis juga memiliki klasifikasi lain tentang ajaran dan tuntunan agama. Mereka menambah beberapa dimensi lain yang menurut persepsi mereka merupakan dimensi ajaran Islam. Salah satu bagian tersebut adalah dongeng. Mereka berpendapat, dalam literatur dan teks-teks suci agama banyak didapati cerita suci, yang merupakan motor penggerak, dan mayoritasnya mempunyai pengaruh spiritual, seperti cerita para nabi. Hal semacam ini – menurut mereka – sering dijumpai dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an.
Tujuan asli dari penukilan cerita-cerita tersebut tidak hanya sebagai informasi penambah pengetahuan masyarakat, namun lebih dari itu. Cerita ini diharapkan dapat mereformasi atau membenahi tatanan masyarakat sosial, dan menjadi sebuah suri teladan dan pelajaran bagi mereka (para penganutnya).
Para orientalis – dengan berlandaskan ajaran dan tuntunan agama Kristen dan Yahudi yang sudah diselewengkan – mau tidak mau harus mengatakan bahwa dongeng yang terdapat dalam kitab-kitab agama itu adalah bikinan segelintir orang, dengan tujuan utama memberi pendidikan kepada para penganutnya.
Asumsi ini sangatlah ditentang oleh Al-Qur’an, yang merupakan satu-satunya kitab orisinil yang sama sekali tidak didapatkan kesalahan dan kekurangan di dalamnya.[7]
Walaupun demikian, kita menyakini bahwa ada sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersaji dalam bentuk perumpamaan dan pengandain.[8] Dengan artian, Al-Qur’an terkadang memberikan perumpamaan atau pengibaratan sebuah premis logis dengan premis indrawi. Kendati demikian, sangatlah jauh perbedaan antara sekedar percontohan dan kepalsuan.
Ringkasan
# Elemen ajaran dan tuntunan agama bisa dibagi menjadi 3 bagian:
-Akidah
-Akhlak
-Hukum.
# Bagian Akidah mencakup ajaran-ajaran agama, seperti pengetahuan yang valid tentang eksisitensi (wujud), Pencipta alam, awal penciptaan, dan akhirnya. Bagian yang satu ini dibahas dalam ilmu Kalâm.
# Bagian etika meliputi tuntunan agama tentang budi pekerti yang luhur serta cara penyandangannya. Bagian ini dibahas dalam ilmu Akhlak.
# Bagian hukum pembahasan agama mencakup perbuatan wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah. Ilmu fiqh menjelaskan bagian yang terakhir ini.
# Selain tiga bagian tersebut di atas, para teolog Barat menambahkan beberapa bagian lagi yang mereka anggap sebagai elemen ajaran sebuah agama. Salah satu contoh bagian yang mereka klaim itu adalah dongeng-dongeng yang termaktub dalam kitab-kitab suci, yang biasanya memiliki pengaruh spiritual. Mereka mengatakan, karena tujuan utamanya adalah sebagai pelajaran bagi semua, sangat dimungkinkan dongeng-dongeng itu palsu dan bikinan saja. Muslimin tidak bisa menerima hal ini, karena Al-Qur’an yang mereka punya bukan seperti kitab Injil dan Taurat yang sudah diputar-balikkan dan dipalsukan oleh para penganutnya.
Urgensitas Pencarian Agama
Sebelum memasuki pembahasan ini, kita harus mengetahui motif dan faktor pendorong bagi manusia dalam meneliti valid atau invalidnya sebuah agama. Kenapa harus menelitinya? Lalu kenapa agama valid saja yang harus diikuti?
Jawaban semua itu adalah akal sehat manusia. Akal sehat manusialah yang menjadi motif hal tersebut. Akal sehat mengatakan lazim untuk melakukan hal tersebut. Manusia dengan akalnya harus mengecek apakah para pengklaim kenabian dan risalah itu pada kenyataannya memang demikian ataukah tidak? Dan dalam penelitianini, ia harus sampai pada titik di mana ia merasa yakin secara penuh bahwa mereka itu adalah para pembual dan pembohong atau sebaliknya. Jika kenyataannya (mereka adalah orang-orang jujur), maka ia harus melaksanakan segala konsekuensinya, yaitu menjalankan segala ajaran dan tuntunan mereka. Hal ini karena:
1. Manusia pada dasarnya selalu mencari kebahagian dan kesempurnaan diri. Hal ini muncul dari rasa cinta pada diri sendiri yang merupakan motor penggerak utama manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.
2. Ucapan pengklaim kenabian bahwa jika ada orang menerima ajaran kami dan melaksanakanya dengan sesungguhnya, maka ia akan sampai pada kebahagian abadi, dan jika tidak ia akan tersiksa selamanya.
3. Ucapan ini ada kemungkinan benarnya. Dengan kata lain, manusia tidak langsung menyakini bahwa klaim itu invalid sama sekali.
4. Muhtamal (kebahagian abadi dan kesengsaraan abadi)sangatlah berharga. Betapapun kecilnya ihtimâl(kemungkinan) benarnya klaim tersebut, akal sehat manusia menganjurkannya untuk memikirkan dan merenungkannya. Apalagi bukti-bukti dan saksi kebenarannya sangat banyak dan kuat.
Sebagaimana orang buta yang dalam perjalanannya ditegur oleh seseorang bahwa 10 langkah lagi kedepan ia akan jatuh ke dalam sebuah sumur dan jika ia melangkah terus pasti akan tercebur ke dalamnya, dan akan sengsara di sana. Jika ia menghiraukan teguran itu, pasti ia akan masuk dalam sebuah taman indah dengan segala isinya. Si buta akan mempertimbangkan kebenaran informasi orang tadi. Akal sehatnya akan mengatakan, untuk mengecek kebenarannya, aku harus mencarinya, atau paling tidak, untuk hati-hati aku akan merubah alur perjalanan.
Dari sini, ketika seseorang mengetahui sekelompok orang besar dan agung mengklaim sebagai delegasi Tuhan yang datang untuk membimbing manusia ke arah kebahagiaan abadi, dan di sisi lain ia melihat pribadi-pribadi ini tidak main-main dalam menyampaikan misi yang diembannya; segala mara bahaya dan tantangan mereka lalui, bahkan tak jarang dari mereka yang akhirnya rela mengorbankan jiwanya, maka sangatlah logis bagi setiap orang untuk mengecek dan meneliti benar tidaknya klaim mereka itu.
Dengan kata lain, menolak bahaya yang mungkin terjadi adalah salah satu hukum logika yang tak terbantahkan. Kuat tidaknya hukum akal ini tergantung pada kuat tidaknya ihtimâl dan muhtamalnya. Semakin besar dan berharga muhtamal, secara logis upaya untuk menghindarinya akan makin besar dan menguat pula.
Dalam konteks agama, bahaya yang mungkin terjadi akibat tidak diterimanya agama itu adalah kesengsaraan abadi. Bahaya muhtamal ini sangat besar dan menakutkan sekali, kendati kemungkinan benarnya kecil sekalipun. Akan tetapi, pengaruh hukum akal untuk menolak bahaya tetap menjadi pertimbangan yang layak diperhatikan.
Di samping cinta diri sendiri atau insting mencari keuntungan dan manfaat serta lari dari kesengsaraan yang telah kami sebutkan sebagai pendorong manusia untuk meneliti sebuah agama, ada satu faktor lagi yang mendorong manusia untuk mengecek hal ini. Faktor tersebut adalah fitrah manusia. Secara fitri, manusia cinta untuk mengetahui kebenaran, memahami realitas, dan suka mencari kebenaran. Rasa ingin tahu ini sudah terpatri dalam diri manusia. Rasa inilah yang mendorong manusia untuk mencari tahu benar tidaknya sebuah agama.
Apakah alam ini memiliki Tuhan? Siapa Ia? Apa ciri-ciri dan sifat-Nya? Bagaimana hubungannya dengan manusia? Apakah badan manusia yang material memiliki sesuatu yang lain yang non-material? Apakah ada kehidupan lagi setelah dunia? Dan kalau memang demikian, bagaimana hubunganya dengan kehidupan yang sekarang? Pertanyaan-pertanyaan ini, dan setumpuk pertanyaan lainnya membuat rasa ingin tahu manusia (fudhûli) mulai terusik, dan hal ini berkecamuk dalam dirinya, yang tak akan pernah reda sampai ia menemukan jawaban yang memuaskan. Nah, bagian Akidah dari ajaran agama, senantiasa siap menjawab dengan tuntas pertayaan di atas tadi.
Ringkasan
# Setiap insan berakal sehat selalu menganggap penelitian tentang kebenaran sebuah agama itu sebagai sebuah kewajiban. Karena, pertama, secara subsantial manusia menyukai kebahagiaan dan kesempurnaan diri. Kedua, para pengklaim kenabian mengatakan, kebahagian dan kesengsaraan abadi tergantung pada diterima tidaknya ajaran mereka. Ketiga, klaim ini bisa jadi benar. Dan keempat, besar dan berharganya muhtamal menutupi dan menguatkan lemahnya ihtimâl (kemungkinan). Dengan memperhatikan empat mukadimah tadi, akal menghukumi perlu dan lazim meneliti benar tidaknya klaim mereka, karena jika tidak, selain kebahagiaan abadi akan lenyap dari gengamannya, kesengsaraan abadi akan siap menyambutnya.
# Selain insting cinta manfaat (keuntungan) dan rasa ingin lepas dari bahaya, ada faktor lain yang melazimkan manusia untuk meneliti kebenaran sebuah agama. Hal itu adalah kecenderungan fitri yang timbul dari dalam jiwa manusia yang berupa cinta akan pengetahuan kebenaran dan hakikat, atau rasa ingin tahu.
Penantian Manusia Dari Agama
Dalam pembahasan terdahulu telah dibahas mengenai kelaziman meneliti agama yang bersumber dari akal sehat setiap manusia. Sekarang masing-masing kita tanyakan pada diri masing-masing, pada dasarnya apa yang dibutuhkan dan dicari oleh manusia dalam agama? Apakah yang dijanjikan atau yang bisa diberikan agama kepada kita? Atau dengan kata lain, apa yang dapat kita nanti dari agama?
Jawaban global dari pertayaan ini adalah manusia – dengan bimbingan agama – ingin sampai kepada kebahagiaan dan kesempurnaannya di dunia dan akhirat. Penantian ini terbilang besar sekali. Selain agama, siapapun dan apapun tidak akan sanggup untuk menjawab dan menggantikan tempatnya.
Hanya saja, di samping kebutuhan pokok ini, ada penantian-penantian parsial lain pula yang juga diharapkan oleh manusia, seperti:
1.Agama bisa diargumentasikan. Yakni, secara logis bisa dibela, karena unsur-unsur dan ajarannya bisa diterima oleh akal sehat.
2. Agama memberikan makna dalam kehidupan. Yakni, manusia terjaga dari keputus-asaan, dan menghilangkan asumsi tak bermaknannya kehidupan.
3. Agama merupakan pemberi harapan.
4. Agama diharapkan bisa meluhurkan segala tindakan dalam masyarakat sosial.
5. Agama mengajarkan rasa tanggung jawab kepada manusia. Faktor terpenting dan terpokok dari kelima penantian (baca : manfaat) tadi adalah faktor pertama dan kedua.
Penantian pertama adalah logisnya pokok-pokok Akidah sebuah agama membuat orang lebih mudah untuk menerimanya. Dan sanggup mengusir kerancuan dan kesamaran.

Untuk menjelaskan penantian yang kedua kita bisa katakan, kehidupan dunia selalu dipenuhi kesulitan, ketersiksaan, dan lain sebagainya. Kita kerap kali berada dalam kondisi yang tidak kita harapkan sama sekali. Sebagian ketersiksaan dan kesulitan tadi, bisa hilang dengan kemajuan teknologi dan sarana-sarana lain. Namun mayoritas kesulitan dan kesengsaraan itu tidak bisa disembuhkan dan dihilangkan melalui kemajuan teknologi dan sarana materiil lainnya. Manusia pun dengan kemampuan yang ada tidak akan mampu untuk menghadapinya.
Sebagai contoh, manusia selalu mencari tahu segala sesuatu yang kabur di hadapannya, dan ketika tidak mampu menyingkap tabir tersebut, ia akan merasa tersiksa.
Manusia selalu mencari yang terbaik, tak mau salah dan disalahkan, dan ketika hal itu tidak kesampaian, lagi-lagi ia akan terluka dan merasa tersiksa.
Manusia cinta keabadian. Ketika menyadari kehidupan manisnya harus diakhiri dengan kematian, iapun akan mengalami ketakutan yang luar biasa.
Manusia ingin selalu sampai pada puncak segala sesuatu. Ketika kekurangan dan keterbatasan menghimpitnya, untuk kesekian kalinya ia akan tersiksa.
Manusia yang cacat dari sejak lahir dan melihat dirinya tidak sama dengan manusia normal lainnya; ia tidak bisa mendapatkan fasilitas yang lebih atau setidaknya bisa didapatkan jika ia normal. Dengan kondisi ini ia akan patah semangat dan berputus asa.
Hanya agamalah yang sanggup mengobati luka-luka dan rasa sakit tersebut dan memberikan arti pada kehidupan mereka, dan sanggup meringankan beban yang mereka pikul.
Jika manusia tahu alam memiliki Pencipta bijak, pemurah, tak kikir pada hambanya, dan memandang sama pada mereka, tidak ada standar kemuliaan dan keutamaan kecuali takwa dan pendekatan diri padanya, Sang Maha Adil, sedikitpun ia tidak pernah menzalimi hamba-Nya, dan mampu merubah segala kesulitan dan kesengsaraan dalam sekejap menjadi kebahagian, niscaya rasa sakit ini akan menjadi manis terasa, seperti rasa sakit yang diderita para pencinta untuk sampai dan bertemu kekasihnya. Rasa sakit inilah yang dirasakan oleh para arif kita yang tidak mau ia obati kendati banyak tawaran yang datang untuk mengobatinya.
Maka ketahuilah hakikat ini, wahai pencari hakikat. Barangsiapa memiliki jiwa semacam ini, maka ia adalah sang pemenang.[9]
Ringkasan
# Penantian utama manusia dari agama adalah untuk menyampaikannya kepada kesempurnaan dan kebahagian abadi, baik di dunia maupun di akhirat.
# Selain kebutuhan utama ini, ada kebutuhan lain yang dinanti oleh manusia dari agama. Antara lain:
1.Agama layak diargumentasikan dan dibuktikan.
2. Agama pemberi arti dalam kehidupan.
3. Agama merupakan pemberi motifasi dan harapan.
4. Agama mampu meluhurkan tujuan-tujuan sosial masyarakat.
5. Agama mengajarkan kepada manusia cara bertanggung-jawab.
# Kehidupan manusia banyak dipenuhi oleh rasa keputus-asaan dan kesengsaraan. Sebagaian kesulitan dan keputus-asaan itu terkadang bisa dihilangkan dengan kemajuan teknologi dan pelbagai fasilitas mutakhir lain. Namun, tidak sedikit dari problema-problema itu yang tidak bisa disembuhkan oleh fasilitas tadi atau yang lain, seperti kesalah-pahaman, terjerumus dalam kekhilafan dan kesalahan dalam melangkah dan bersikap, banyangan kematian, kekurangan, keterbatasan, dan lain-lain.
# Jika manusia memahami bahwa Pencipta alam ini Maha bijak, pemurah, dan selain takwa tiada standar keutamaan dan kemuliaan lain baginya, Maha Adil, ia tidak akan pernah berbuat zalim sedikit pun pada hamba-Nya, dan bisa merubah segala kesulitan dan kesengsaraan sekejap menjadi ketulusan, niscaya ia akan terjauh dari keputus-asaan dalam hidup dan kehidupan. Ini merupakan maksud dari ungkapan bahwa agama adalah pemberi makna dalam kehidupan manusia.
Penantian Agama Dari Manusia
Telah jelas, bahwa agama sebagai sebuah kumpulan Akidah (keyakinan) dan seperangkat tuntunan praktis bukanlah sebuah fenomena yang mampu berkoar demi menanti sesuatu dari manusia atau yang lain. Akan tetapi, maksud dari judul di atas adalah penantian syar’î dan Pencipta agama atau yang kita sebut sebagai Tuhan dari manusia.
Ringkasnya, penantian agama (Tuhan) dari manusia adalah supaya mereka menerima keyakinan-keyakinan agama tersebut, menyakini-Nya dengan keyakinan yang kokoh serta mengamalkan segala tuntunan praktis. Hendaknya luar dalam manusia berhias dengan agama, dan menyingkirkan kehinaan dan menggantinya dengan keutamaan
Tanpa diragukan juga, semua itu akan kembali kepada manusia sendiri. Artinya, jika kita katakan agama menanti dari manuisa, bukan berarti agama menginginkan sebagaian dari kehidupan mereka dicurahkan kepadanya dan akan menambah sesuatu dalam agama. Akan tetapi, terealisasinya semua itu tidak bermanfaat sama sekali kecuali untuk manusia sendiri. Dengan kata lain, agama menanti dari manusia supaya mereka sampai kepada kebahagian dan kesempurnaan serta dapat menikmati anugerah tertinggi dan terbaik dari Tuhan. “Katakanlah tidaklah aku meminta upah dari kalian kecuali hal itu kembali kepda kalian sendiri”.[10]
Ringkasan
# Maksud dari penantian agama dari manusia adalah penantian sang Pencipta agama.
# Penantian Pencipta agama dari manusia adalah supaya agamanya diterima, diyakini, dan dipraktekan, serta segala ajaran dan tuntunan yang iajarkan dalam agama diterapkan dalam kehidupan.
# Pada dasarnya, Pencipta agama menginginkan manusia bisa sampai kepada kesempurnaan dan bisa menggapai anugerah-Nya yang tertinggi.
Faktor Kecendrungan Beragama
Agama adalah sebuah realitas yang muncul seiring dengan sejarah manusia. Hal ini juga ditandaskan oleh para penentangnya, mereka yang tak mampu mengelak dan lari dari keyataan ini. Masalah keyakinan terhadap keberadan Tuhan sebagai kausa prima, dalam setiap waktu dan tempat, dan dalam kondisi masyarakat yang berbeda-beda, dari sudut pandang budaya dan pradaban telah diyakini dengan bentuk yang berbeda-beda pula.
Fakta inipun tak bisa terbantahkan. Kalau setiap orang atau golongan yang mengakui invaliditas agama, dan menganggap semua ajaran dan tuntunan agama adalah palsu dan gombal semata, selalu berusaha seoptimal mungkin untuk mengurangi kecenderungan masyarakat terhadap agama. Sesungguhnya orang yang tidak menyakini bahwa alam ini mempunyai Pencipta yang disebut Tuhan, animo masyarakat yang begitu besar terhadap keyakinan beragama dan penyembahan terhadap Tuhan akan menjadi sebuah fenomena yang menyakitkan buat mereka yang dengan berbagai cara mereka justifikasikan dan takwilkan.
Teori-teori dalam hal ini telah bermunculan. Sebagaian darinya begitu lemah kebenaranya sehingga membuat setiap orang tertawa dan prihatin. Di sini akan kami paparkan sebagaian dari teori-teori tersebut.
a. Teori Ketakutan
Freud[11] memiliki persepsi bahwa ketakutan adalah faktor keyakinan terhadap Tuhan bagi setiap agamawan. Namun, Freud bukanlah orang pertama yang mencetuskan teori ini. Ada orang lain yang lebih dulu menyakininya.[12]
Secara ringkas, teori ini ingin berasumsi bahwa ketakutan akan fenomena-fenomena natural (alam), seperti banjir, topan, gempa bumi, rasa sakit dan kematian, membuat manusia ketakutan yang pada gilirannya, mereka meyakini ada sumber tunggal yang sengaja memunculkan fenomena-fenomena tersebut yang mereka sebut Tuhan. Menurut pendapat Freud, Tuhan adalah hamba manusia, bukan sebaliknya. Pada dasarnya, munculnya keyakinan beragama dalam setiap benak manusia adalah harapan terjaganya mereka dari bahaya fenomena-fenomena alam di atas. Untuk lari dari bahaya tersebut, manusia purba mulai menyakini sebuah eksistensi pemilik kemampuan dan kekuatan dalam mengatur alam dengan mempersembahkan binatang korban, do’a, ibadah, dan amalan-amalan, seperti cinta, dan kasih sayang, dan lain sebagainya.
b. Teori Kebodohan

Will Durant dan Bertrand Russel adalah dua dari sekian banyak teolog yang menyakini teori ini. Mereka memiliki asumsi bahwa faktor munculnya kecenderungan beragama adalah kebodohan dan ketidaktahuan manusia. Manusia purba ketika ia tidak mampu memahami sebab terjadinya fenomena-fenomena natural, seperti gerhana matahari dan bulan, ia langsung meyakini suatu wujud yang menyebabkan semua hal di atas. Mereka menamakannya Tuhan. Dan tidak hanya fenomena alam saja, semua hal yang tidak diketahui sebabnya mereka kembalikan kepada Tuhan. Untuk membuat Tuhan tidak murka dan supaya selamat dari dari fenomena-fenomena langit dan bumi tadi, mereka mulai mengadakan ritual-ritual yang dapat menyejukkan hati Tuhan, seperti tunduk dan beribadah di hadapan-Nya.
Kritikan Terhadap Dua Teori Di Atas
Untuk mengkritik dua teori di atas perlu kita bawakan pendahuluan berikut ini:
# Kedua teori di atas hanya sekedar asumsi (fardhiyah yang sampai sekarang belum terbukti kebenarannya) dan kemungkinan saja, tidak lebih. Lebih dari itu, keduanya tidak memiliki argumentasi dan pijakan historis yang dapat dijadikan sandaran.
# Kita asumsikan teori di atas benar dan mayoritas atau sebagian dari manusia karena rasa takut dan ketidaktahuan menyakini sebuah wujud yang mereka namakan Tuhan yang pada akhirnya mereka sembah. Namun, kendati demikian, hal ini tidak mengkonsekuensikan ketiadaan Tuhan itu sendiri, yang membuat semua agama batil dan invalid. Dengan kata lain, kita terima rasa takut dan bodoh sebagai sumber kecenderungan beragama, dan itu merupakan sebuah kesalahan, namun ketidakbenaran ini bukan berarti penafian wujud Tuhan dan kebenaran agama.
Sebuah contoh, pelbagai inovasi dan kreasi baru, kebanyakan timbul bertujuan sebagai sarana mencari popularitas, meraup kekayaan dan tergiur oleh posisi mapan dalam pandangan masyarakat sosial. Faktor-faktor ini tidak benar dan tidak luhur sama sekali. Akan tetapi, ketidakbenaran tujuan-tujuan tadi bukanlah indikator kesalahan dan kebatilan inovasi ilmiah tersebut.
Ringkasnya, kedua teori ini telah mencampur-adukan antara sesuatu yang memotifasi manusia pada sebuah tujuan (anggîzeh), dengan sesuatu yang kepadanya manusia bergerak atau apa yang akan didapatkan manusia,[13] dan menjadikan invaliditas satu sebagai indikator invaliditas lainnya.
# Ada bukti-bukti lain yang mengindikasikan invaliditas dua teori di atas. Untuk teori pertama kita dapat menyangkalnya dengan hal-hal berikut ini:
1. Sejarah telah mencatat bahwa para pembawa misi dan duta-duta Tuhan itu selalu menjadi person-person paling berani di zamannya. Mereka selau berdiri tegak walaupun bahaya mengancam.
2. Kita dapati bahwa hanya manusia kerdil nan penakut yang sama sekali tidak meyakini keberadaan Tuhan.
3. Jika akar keyakinan terhadap Tuhan adalah rasa takut akan fenomena-fenomena natural, lalu bagimana dengan masa sekarang ini yang mayoritas manusia memahami fenomena-fenomena tadi? Seharusnya keyakinan beragama sudah lenyap dan sirna, atau paling tidak, sudah pudar. Sedangkan fakta dan realita di luar tidaklah demikian. Malah bisa dibilang, keyakinan terhadap Tuhan merupakan wacana terpopuler dan paling digandrungi oleh manusia saat ini.
Bukti-bukti yang menguatkan invaliditas teori kedua pun (teori kebodohan) tidak kalah banyaknya. Cukuplah kita sebutkan satu saja di sini.
Sejarah telah mencatat bahwa para penganut agama bukanlah segerombolan orang-orang buta huruf dan tak berpengetahuan. Akan tetapi, penganut agama terdiri dari berbagai lapisan, yang salah satu dari lapisan tersebut adalah cendekiawan, ilmuwan, dan pakar-pakar kaliber di berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti Einstain, Newton, Galileo, dan sederet nama tenar lainnya. Mereka adalah para ilmuwan tersohor yang secara tulus meyakini keberadan Tuhan.
# Menurut kita, ada dua faktor kecenderungan beragama: pertama, setiap maujud pasti ada yang mewujudkan. Setiap sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak, mustahil bisa ada dengan sendirinya. Kedua, panggilan jiwa manusia untuk ber-Tuhan, suara dan bisikan ini sudah terformat dalam setiap hati manusia di sepanjang sejarah. Sebagaimana naluri ingin tahu dan cinta keindahan sudah tersedia di dalam setiap person manusia tanpa dicari. Begitu juga dengan naluri ber-Tuhan dan menghamba kepada-Nya sudah ada pada setiap manusia. Hal ini merupakan fitrah Ilahiah yang mendorong dan memicu mereka untuk meyakini keberadaan Tuhan.
Poin-poin penting
a. Dengan mencermati secara seksama teori-teori yang telah kita paparkan dan kita kritik tadi, kita bisa memahami bahwa fanatisme yang amat kental dari para pemilik pendapat ini telah membutakan mata hati (fitrah; bisikan pemanggil Tuhan) dan logika mereka.
b. Para pencetus teori di atas sudah dari awal mengasumsikan tidak ada motif logis dan rasional bagi timbulnya kecenderungan beragama sehingga ujung-ujungnya mereka terpaksa ngelantur dan menganggap faktor psikologis tertentu sebagai sebab munculnya kecenderungan beragama. Mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang pra-sejarah yang menyebut setiap kejadian-kejadian alam yang tak diketahui sebabnya sebagai hasil dari sihir. Kalau mereka mau jujur dan sedikit berpikir logis dan rasional, teori ini tidak akan mungkin akan terlintas dalam benak mereka.
Ringkasan
# Sejarah agama seiring dengan munculnya sejarah manusia.
# Para penentang keberadaan Tuhan senantiasa berupaya memanipulasi dan menjustifikasi keyakinan manusia sepanjang sejarah sehingga sesuai dengan Atheisme yang mereka yakini.
# Sekelompok orang berkeyakinan bahwa rasa takut akan fenomena-fenomena yang menakutkan, menjadi pendorong bagi manusia bersepakat untuk menciptakan sebuah sebab tunggal, yang mereka namakan Tuhan. Faktor munculnya keyakinan beragama dalam setiap benak manusia adalah harapan untuk lolos dari mara bahaya.
# Para pemilik teori kebodohan meyakini bahwa faktor keyakinan orang-orang terdahulu kepada Tuhan adalah ketidaktahuan mereka terhadap sebab-sebab fenomena alam yang terjadi, seperti gerhana matahari dan bulan. Menurut mereka, Tuhanlah yang menjadi sebab bagi setiap kejaian yang tak mereka ketahui sebabnya itu.
# Kedua teori di atas masih berupa asumsi dan anggapan saja.
# Dengan mengasumsikan kebenaran dua teori tadi, tetap tidak menjelaskan faktor manusia dalam beragama dan keyakinan terhadap Tuhan. Dan ketidakbenaran faktor ini, sama sekali tidak dapat dijadikan alasan untuk menafikan keberadaan Tuhan, karena benar tidaknya faktor setiap tindakan dan benar tidaknya tindakan itu sendiri adalah dua permasalahan tersendiri.
# Teori ketakutan tidak benar karena; 1. Para duta Tuhan adalah orang-orang paling berani di zamanya. 2. Orang-orang penakut pun banyak berkeliaran yang tak memiliki keyakinan kepada Tuhan. 3. Di zaman sekarang, fenomena menakutkan yang tak dipahami sebabnya telah berkurang sampai batas tertentu, tapi keyakinan terhadap Tuhan masih tetap ada dan tak berkurang sedikit pun.
# Teori kebodohan pun juga tidak kalah krusialnya, karena sebagian dari para ilmuwan dan pakar ilmu pengetahuan adalah orang yang beriman secara tulus kepada Tuhan.
# Teori valid akan munculnya keyakinan pada Tuhan ada dua: pertama, akal sehat manusia menghukumi setiap makhluk butuh pada khalik, dan kedua, fitrah manusia.
Faktor-faktor Ditertawakannya Agama Di Barat[14]
Pada abad ke-18 dan seterusnya, masyarakat Eropa mulai berbondong-bondong manganut faham Atheisme. Atau kurang lebih bisa dibilang, tendensi terhadap agama mulai berkurang. Munculnya Atheisme dan keengganan beragama di dunia belahan Barat ini, disebabkan setumpuk alasan, yang dalam buku ini, kita hanya mau membawakan alasan dan faktor-faktor terpentingnya saja.
1. Ajaran Kristen Yang Tak Komprehensif
Penjelasan dogmatis agama yang terdapat di Barat dan didominasi oleh Dewan Gereja, sangatlah lemah dan tidak logis sama sekali. Setiap akal sehat tidak bisa menerima dan menelan mentah-mentah setiap ajaran yang ada. Syarat pertama yang harus terpenuhi adalah ajaran tersebut hendaknya tidak bertentangan dengan akal sehat.
Sebagai contoh, Gereja mengilustrasikan Tuhan bak manusia; mereka memperkenalkan pada khalayak Tuhan yang bersosok, bertangan, dan berkaki, mempunyai mata dan telinga, sama persis dengan yang dimiliki manusia. Hanya bedanya, – menurut mereka – milik Tuhan lebih besar dari pada milik manusia.
Jika mulai dari masa kanak-kanak mereka telah mendoktrinkan Tuhan semacam ini, ketika menginjak dewasa dan sang anak memahami bahwa Tuhan semacam ini tidak layak dikatakan Tuhan, maka bukan hanya si anak tak mau membenarkan dan mempercayai doktrin tersebut di atas. Lebih parah lagi, ia akan mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri.
Dalam kitab Tuhan dalam Natural, Palamariyun mengatakan, “Dewan Gereja menegaskan, jarak mata kanan Tuhan dengan mata kirinya sekitar 6 ribu Farsakh.”
2. Kekerasan (Baca : Kekejian) Gereja
Dalam menyampaikan ajaran-ajaran dan tuntunan agama, mereka memaksa mayarakat untuk menerimanya. Gereja tidak segan-segan bertindak ‘bodoh’ dan kejam, bahkan mereka bersikeras mendoktrinkan pelbagai kajian dan konsep invalid dalam kaca mata sains sekalipun. Sebagai contoh, mereka meyakini matahari berputar mengitari bumi yang statis. Keyakinan semacam ini yang jelas kontradiktif dengan hasil kajian dan riset ilmiah, menjadikan manusia lari dan menghujat ajaran dan tuntunan agama (Kristen).
Gereja pada abad-abad pertengahan memiliki sebuah lembaga pengadilan yang bernama Angizisition atau pengecekan Akidah. Lembaga ini segaja didirikan untuk menindak para penentang kebijakan gereja.
Will Durant dalam mengomentari kekerasan Dewan Peradilan ini menulis, ”Gereja memiliki cara khusus untuk menyiksa orang yang tertuduh menodai dan menentang ajarannya. Cara mereka dari waktu ke waktu berbeda antara satu dan yang lain. Terkadang terdakwa digantung dalam kondisi tangan terikat ke belakang, terkadang diikat sampai tak bisa bergerak, kemudian mereka teteskan air ke dalam tenggorokannya sampai mati, terkadang pula lengan dan betis mereka diikat dengan kuat, sehingga tali-tali itu menembus daging, dan tak jarang pula tulang-tulang itu patah”.[15]
Durant juga mengatakan, ”Jumlah korban kekejian gereja pada tahun 1480-1488 (dalam kurun waktu 8 tahun), mencapai 8.800 jiwa dibakar, 96.494 dikenai hukuman berat. Sedang dari tahun 1480 hingga 1808, sekitar 31.912 jiwa dibakar dan 291.450 dikenai hukuman berat”.[16]
Melihat kekejian yang mereka terima dari pemimpin agama yang semacam ini, sedikit demi sedikit masyarakat Barat mengingkari pemilik agama itu sendiri, dan itu adalah Tuhan.
3. Konsep Filosofis Yang Tak Konprehensif.
Untuk menjelaskan yang satu ini, dibutuhkan penjelasan beberapa poin filosofis yang tidak sesuai dengan kapasitas kitab sekecil ini. Oleh karena itu, kami hanya akan mengemukakan kelemahan sikap para agamawan Barat (kaum Kristiani) secara rasional dalam menjawab kritkan-kritikan yang mengarah kepada konsep ke-Tuhanan dan Kalâm mereka.
Untuk itu, kami akan menukilkan ungkapan yang ditulis oleh Bertrand Russel[17] dalam bukunya “Kenapa Kita bukan Kristiani?”. Russel adalah seorang peragu keberadaan Tuhan (skeptis). Namun, secara praktis ia seorang Atheis. Ia menuturkan, ”Argumen kausa prima untuk membuktikan keberadaan Tuhan mengatakan, semua yang kita lihat di dunia pasti memiliki sebab, dan jika mata rantai ini kita kita teruskan, ujung-ujungnya akan berakhir pada sebuah sebab awal yang sering disebut sebagai sebab dari segala sebab, yang dikenal oleh kalangan agamawan sebagai Tuhan”.
Russel mengkritik argumentasi ini dengan perkataaannya, “Pada masa remaja, aku tidak merenungkan permasalahan ini dengan baik dan selama kurun waktu yang panjang argumentasi kausa prima ini saya terima. Sampai suatu saat usiaku menginjak 18 tahun. Aku baca biografi kehidupan John Stwart. Aku temukan sebuah kalimat yang berbunyi ”ayahku bilang, pertanyaan siapa yang menciptakanku? tidak memiliki jawaban, karena spontanitas jawabannya akan disusul dengan pertanyaan baru, siapa yang menciptakan Tuhan itu sendiri?” Kalimat simpel ini ternyata menyingkap kebohongan argumentasi kausa prima bagiku, yang sampai saat ini kebohongan ini tetap kuyakini. Jika sesuatu eksis tanpa sebab, maka ia bisa jadi Tuhan dan alam sekaligus. Maka dari sinilah tampak kesalahan argumen kausa prima itu”.[18]
Siapapun yang sedikit mengenal filsafat Islam, niscaya ia akan menemukan kelemahan dan kesalahan kritikan Russel itu. Menurut asumsinya, hukum kausalitas mencakup semua wujud, termasuk Tuhan. Sedangkan yang benar adalah hanya maujud mungkin yang bisa ada dan yang membutuhkan pada sebab. Dengan demikian, sudah dari awal Tuhan keluar dari kaedah di atas, karena Ia adalah Wâjibul wujûd. Sebagai contoh, setiap orang lalim selalu berkata bohong. Premis ini sudah dari awal tidak mencakup orang adil.
Untuk penjelasan lebih lanjut diperlukan pembahasan filosofis dan hal ini tidak sesuai dengan kapasitas buku ini.
4. Konsep Sosial Politik Yang Tak Konprehensif
Sudah menjadi rahasia umum di Barat bahwa kepemimpinan agama dalam sebuah masyarakat akan mengancam kebebasan personal dan munculnya diktatoris dan pemerintahan monopolis oleh segelintir orang yang mengklaim sebagai duta-duta Tuhan. Masyarakat berasumsi, jika mereka menerima Tuhan, berarti secara otomatis ia harus menerima diktatoris absolut, di mana person tidak memiliki hak sama sekali pada pemimpin, dan para penguasa tidak memiliki tanggung jawab dan kewajiban sama sekali di hadapan masyarakat. Dengan demikian, menerima Tuhan berarti menerima kematian sistem sosial, dan jika masyarakat ingin menikmati kebebasan sosial, mereka harus meninggalkan atribut yang berkenaan dengan ke-Tuhanan dan agama. Akhirnya, mereka lebih mengutamakan kebebasan dari pada memilih percaya pada Tuhan.
Dalam Islam sebagai satu-satunya agama yang belum terjamah tangan-tangan kotor para pembohong, setiap dari pemimpinnya menegaskan bahwa jika mereka memiliki hak atas masyarakat, maka manusia pun memiliki hak pula atas mereka. Sebagai contoh, kita bawakan sabda Amirul Mukminin dalam Nahjul Balâghahnya. Beliau berkata, “Allah SWT dengan pemerintahan yang ia berikan, telah meletakkan hak bagiku atas kalian, dan begitu pula kalian juga memiliki hak atas ku. Hak selalu dua sisi, tidak ada orang yang berhak atas yang lain kecuali ia punya kewajiban atas yang lain pula. Tidak ada orang yang memiliki hak atas orang lain dan orang lain tidak memiliki hak atasnya. Jika ada, ia hanyalah Tuhan semata. Makhluk-Nya tidak memiliki keistimewaan seperti itu, karena Ia memiliki kekuatan dan kekuasaan atas para hamba-Nya, dan Ia Maha Adil yang sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya”.[19]
Dalam undang-undang dasar Republik Islam Iran – yang merupakan refleksi dari Al–Qur’an dan hadis –, kebebasan masyarakat dan hak bicara serta protes terhadap pemerintah tetap terjaga. Mereka memilih wakil-wakil untuk memimpin dan menjalankan roda pemerintahan. Pada pasal ke-6 UUD tersebut disebutkan:
”Dalam Republik Islam Iran pengaturan negara diatur berdasarkan pendapat mayoritas dan umum melalui proses pemilihan; pemilihan persiden, MPR Islami, anggota Syura, dan yang lainnya, atau melalui penjajakan umum dalam kasus yang telah ditentukan oleh undang-undang”.
Dalam Pasal ke-19 dan 20 disebutkan, ”Masyarakat Iran adalah sama dari segi hak-hak dari kaum dan kalangan apa saja ia. Hal-hal seperti warna kulit, keturunan, bahasa dan yang lainnya bukanlah tolok ukur keistimewaan. Semua warga, baik laki-laki maupun wanita, dilindungi oleh undang-undang, dan akan mendapatkan perlakuan yang sama di bidang hak asasi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya dengan tetap menjaga kode etik Islam”.
5. Penjelasan Dari Non Spesialis
Kendati dasar ber-Tuhan sangatlah simpel dan semua orang merasa punya tugas untuk itu dilihat dari sudut pandang fitrah, akan tetapi, pendalaman dan penyelaman mengenalnya merupakan permasalahan yang amat pelik. Pembahasan tentang sifat-sifat Allah, Asma`-Nya, Qadhâ’ dan Qadar-Nya, jabr dan ikhtiâr, dan lain sebagainya – menurut ungkapkan Amirul Mukminin – adalah samudra dalam yang tidak sembarang orang mampu menyelaminya. Ironisnya, baik di Barat atau di Timur, setiap orang menganggap punya hak dan kemampuan untuk menjelaskannya. Inilah yang menyebabkan konsep-konsep agama menyebar di tengah-tengah memasyarakat dengan tidak benar. Hal yang membuat mereka ragu akan kebenaran agama. Syahid Muthahari berkata, “Seseorang dalam menjawab pertayaan kenapa Tuhan memberikan sayap pada burung merpati dan tidak pada unta? berkata, jika unta memiliki sayap, maka kehidupan kita akan hancur, karena unta terbang itu akan menghancurkan rumah, dan segalanya. Kemudian yang lain pun ditanya apa argumen keberadaan Tuhan?, ia berkata, selagi tak ada, tidak perlu kita ekspos ke khalayak”.[20]
Memang benar, lemahnya sebuah argumentasi bukan berarti menunjukkan invaliditas sebuah dakwaan dan klaim. Namun, dari sisi kejiwaan, setiap argumentasi lemah yang dibawa untuk menetapkan sebuah dakwaan, lama-kelamaan pendengar akan meragukan kebenaran dakwaan itu. Bahkan lebih dari itu, sangat besar kemungkinannya ia akan mengingkarinya sama sekali.
Dengan demikian, pembelaan yang tidak kokoh dan mantap tentang masalah keyakinan beragama dari mereka yang tidak memililki spesialisasi tentang itu merupakan salah satu faktor kecenderungan Atheisme.


6. Persepsi Kontradiksi Antara Agama Dan Kebahagiaan Duniawi
Manusia memiliki sebuah keinginan dan insting sebagai anugerah Tuhan untuk menata dan mendorong manusia ke arah kesempurnan-Nya, seperti kecenderungan seksual, memiliki keturunan (berevolusi), mencari ilmu dan pengetahuan, serta kecenderungan kepada kecantikan dan keindahan.
Sekalipun manusia dilarang untuk mengikuti secara mutlak kecenderungan-kecenderungan di atas, namun hal ini tidak berarti kecenderungn-kecenderungan tadi dilepas dan tak terlampiaskan atau ditolak secara frontal. Naluri tadi harus dipupuk, diarahkan, dan dilampiaskan secara proporsional dan berimbang serta dengan jalan yang telah dibenarkan.
Nah, kalau dengan nama Tuhan dan agama semua insting itu dinafikan sama sekali, seperti proses pembaptisan, pasturisasi, penyucian, perkawinan dianggap dosa, kebodohan, dan kemiskinan dianggap sebagai penyebab keselamatan, serta pengetahuan dan kekayaan dianggap penyebab kesesatan, maka secara alami orang-orang yang selalu dibawah kontrol hal-hal di atas, satu demi satu akan mengingkari keberadaan Tuhan dan agama. Realitas inilah yang menimpa masyarakat Barat, dan sebagian masyarakat muslim dalam skala kecil.
Russel mengatakan, “Ajaran gereja telah menempatkan manusia dalam dua dilema, kesengsaraan dan kepapaan; kesengsaraan dunia dan pelarangan atas kenikmatannya, atau kesengsaraan dan pelarangan dari nikmat-nikmat akhirat. Menurut gereja, manusia harus menerima salah satu dari kesengsaraan di atas; bisa jadi ia melepas kesengsaraan dunia untuk kebahagian akhirat, atau kalau ingin menikmati kenikmatan dunia, ia harus rela melepas kenikmatan akhirat”.[21]
Opini ini jelas salah dan invalid. Agama valid harus bisa menjamin kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Barangsiapa melarikan diri dari agama, ia akan tersiksa selamanya, baik di dunia maupun di akhirat. Pertanyaan semisal kenapa Tuhan menyuruh kita untuk memilih satu dari dua pilihan?, apakah Tuhan itu kikir? dan pertanyaan yang lain, akan selalu terlintas dalam benak pikiran manusia normal. Pada realitanya, ajaran-ajaran agama senantiasa memelihara dan menjamin kebahagiaan manusia.
Syahid Mutahhari mengatakan, “Ajaran-ajaran sesat dan menyimpang yang disampaikan para muballigh dan da’i-da’i, membuat manusia enggan beragama dan ber-Tuhan, serta akan timbul anggapan bahwa agama merupakan penyebab kesengsaraan dan kehinaan di dunia”.[22]
7. Dekadensi moral
Harus diakui, penerimaan agama serta ajarannya membatasi gerak manusia, sehingga mereka yang tenggelam dan terlena oleh buaian meterial dan menganggap agama sebagai pembatas kebebasannya dan penghalang untuk mendapatkannya, pasti akan mengingkari kebenaran agama.
Al-Qur’an menyebutkan tiada orang yang mengingkari hari kebangkitan kecuali karena disebabkan kecintaan mereka yang berlebihan terhadap dunia dan isinya, dan bukan karena ketidakpahaman mereka tentang hari yang pasti akan datang itu.
بَلْ يُرِيْدُ اْلإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
“(Manusia tidak memiliki keraguan tentang akhirat), akan tetapi, ia ingin (bebas dan tanpa rasa takut akan pengadilan akhirat) berbuat maksiat terus-menerus”. (Al-Qiyâmah 5)
Di sisi lain, dosa dan dekadensi moral merupakan faktor utama terdepaknya kebenaran. Tauhîd laksana bibit yang hanya bisa tumbuh subur dan berkembang di atas lahan yang suci. Dengan demikian, lahan tandus dan kotor akan merusak bibit ini. Jika manusia dalam segala perilakunya menjadi budak nafsu, penyembah materi, secara bertahap ia akan beradaptasi dan terpengaruh dengan lingkungan yang ia geluti.[23]
Oleh karenanya, dengan Al-Qur’an Allah hanya bisa memberi petunjuk kepada pribadi-pribadi yang bertakwa[24] dan peringatan Al-Qur’an pun hanya mencakup orang-orang yang jiwa dan ruhnya tidak mati dan gersang akibat tenggelam dalam nafsu dan kenikmatan material.[25]
Dekadensi moral yang mencapai klimaksnya di Barat telah mengurangi kecenderungan spiritual masyarakat dalam dua atau tiga abad terakhir ini dan menjadi faktor utama pengingkaran terhadap keyakinan-keyakinan agama.[26]

Dengan teori dan serangan semacam inilah (teori dengan bersenjatakan perusakan moral), kaum Kristiani sanggup “mengusir” kaum Muslim dari Spanyol. Mereka mempertontonkan kerusakan moral, kebebasan seksual dan lain sebagainya di tengah-tengah masyarakat Islam.
Ringkasan
Faktor-faktor terpenting munculnya Atheisme di Barat adalah sebagai berikut:
1.Ketidaklengkapan agama Kristen. Gereja mengilustrasikan Tuhan layaknya seorang manusia. Menurut mereka, Tuhan memiliki badan sama seperti manusia, hanya saja lebih besar dari manusia. Akal sehat tidak akan mungkin mempercayai hal seperti ini.
2.Kekejian gareja. Untuk menyampaikan ajaran dan interperetasi yang dimilikinya, dan supaya semua itu diterima oleh manusia, Dewan Gereja tidak segan-segan menyiksa para penentang-penentangnya, bahkan tak jarang juga mereka mencabut nyawa mereka. Dengan demikian, tiada reaksi lain yang akan timbul dari masyarakat kecuali pengingkaran akan agama dan Tuhan itu sendiri.
3.Ketidaksempurnaan pemahaman filosofis. Ke-Tuhanan dan Kalâm di Barat tidak mampu menjelaskan keberadaan Tuhan dan berbagai keyakinan agama lainnya dengan jitu.
4.Kekuarangan mengenai pemahaman sosial dan politik. Di Barat, telah tersebar sebuah asumsi tak sehat dan tak benar. Hal itu adalah menerima sebuah agama menyebabkan hilang dan lenyapnya kebebasan personal dan sebuah bentuk penyerahan diri pada kediktatoran. Oleh karena itu, masyarakat rela melepas agama dan Tuhan demi menggapai kebebasan mereka. Padahal hal semacam ini bertolak belakang dengan pemahaman agama yang benar, seperti Islam, dimana agama merupakan hal yang paling sesuai dalam memupuk dan menjaga kebebasan itu.
5.Penjelasan dari orang yang bukan ahlinya. Di Barat, bahkan di Timur juga, setiap orang merasa mempunyai hak untuk ikut angkat bicara dalam permasalahan agama. Hal ini membuat sejumlah topik pembahasan yang tak dapat diterima oleh para pakar agama menyebar di tengah-tengah masyarakat.
6.Terciptanya kesan kalau agama tidak sesuai dengan kebahagian duniawi. Di Barat, bukan rahasia umum lagi bahwa jika seseorang meinginginkan kebahagian ukhrawi ia harus meninggalkan kebahagiaan duniawi, membujang, dibaptis, bergaul dengan kemiskinan dan hidup melarat. Padahal, dalam agama yang benar tidaklah demikian. Agama yang benar menjamin kedua kebahagian itu sekaligus.
Dekadensi moral dan praktikal. Menerima agama berarti menerima beberapa pembatasan dalam tindak-tanduk manusia. Oleh karena itu, para penyembah syahwat dan hawa nafsu akan mengingkari agama dan tuntunannya serta ingin membebaskan diri dari berbagai pembatasan tersebut. Memuncaknya dekadensi moral di Barat pada dua-tiga abad yang lalu telah mengurangi kecenderungan masyarakatnya kepada spiritual dan berakhir dengan pengingkaran akan tuntunan dan ajaran agama.            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar